Senin, 29 April 2013

Makalah Mandi Balimau Kasai


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    LATAR BELAKANG
Masyrakat melayu khususnya masayarakat  yang mendiami pesisir sungai teso nilo  yang masih kental akan tradisi yang harus dan mesti kita pertahankan. Dan setelah kami melakukan penelitian terhadap masayrakat lubuk kembang bungo kecamatan ukui kabupaten pelalawan dan bertanya kepada beberapa naraumber dan pemangku adat maka sedikit demi sedikit informasi yang kami rangkum dan kemudian kami susun menurut cerita dan fakta yang kami lihat dan akhirnya kami ketik pada naskah makalah kami ini.
Dan ternyata hari demi hari hingga bergantinya tahun tradisi kian menipis dan kian habis bersama berjalannya waktu, hal itulah yang mesti kita benahi dan kita pertahankan untuk anak cucu kita nanti, supaya Tradisi yang ada dan yang masih tinggal ini dapat kita pertahankan. Tradisi yang masih melekat tersebut  harus kita pertahankan dengan berbagai cara yang bisa kita lakukan untuk mempertahankan tradis dan yang ada di daerah kita ini khususnya daerah Kabupaten pelalawan.
Oleh karena itu kita mesti bekerja sama antara kaum adat dan masyarakat umum untuk mempertahankan tradisi yang masih tersisia ini karena tradisi  itu adalah aset yang tidak ternilai harganya.


1.2 TUJUAN
1. Untuk melestarikan adat melayu pelalawan
2. untuk menambah wawasan tentang adat istiadat di pelalawan
 

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 SEJARAH MANDI BALIMAU KASAI
Kemungkinan besar menurut informasi narasumber yang kami terima, balaimau bakasai ini berasal dari tradisi penduduk sungai gangga yang ada di india mereka menganut agama hindu yang memeiliki tradisi pnyucian diri di sungai, agar dosa-dosa merka hilang bersama mengalirnya air sungai tersebut dan kemudian agama itu berkembang di indonesia hingga sampai ke pelosok negeri yang ada di nusantara dan sungai di kampar ini sebagai bukti bahwa adanya agama hindu sampai di kampar ini sebagai bukti bahwa adanya agama hindu sampai di kampar adalah dengan adanya gugusan candi di muara takus (XIII Koto Kampar).
            Dan setelah masuk di daerah pelalawan berkembangnya Budaya dan Tradisi dan budaya itupun masih berkembang hingga sekarang ini semoga apa yang telah di wariskan oleh nenek moyang kita dahulu dapat lebih berkembang lagi hingga ke sanak cucu kita nanti.

 2.2 PENGERTIAN BALIMAU KASAI
Balimau Kasai bagi masyarakat Riau mempunyai makna yang mendalam yakni bersuci sehari sebelum Ramadhan. Biasanya dilakukan ketika petang sebelum Ramadhan berlangsung. Tua-muda turun ke sungai dan mandi bersama.Balimau artinya membasuh diri dengan ramuan rebusan limau purut atau limau nipis. Sedangkan kasai yang bermakna lulur dalam bahasa Melayu adalah bahan alami seperti beras, kunyit, daun pandan dan bunga bungaan yang membuat wangi tubuh.
Tradisi ini, berlangsung sejak turun menurun di kalangan Melayu Riau. Tradisi dilakukan hampir di seluruh kabupaten/kota yang ada, dengan nama berbeda satu sama lain. Contohnya saja Balimau Kasai  lebih dikenal oleh masyarakat Kabupaten pelalawan . Di Pekanbaru, tradisi ini dinamakan Petang Megang sedangkan di Indragiri Hulu cukup dengan nama Balimau saja.
Balimau Kasai artinya mensucikan diri baik lahir dan batin, sebelum datangnya Ramadhan,"menurut masyarakat.  Kebanyakan orang  kegiatan Balimau Kasai ini merupakan ritual wajib yang harus dilakukan. Selain mandi di sungai dengan limau yang dianggap sebagai penyucian fisik, ajang ini juga dijadikan sarana untuk memperkuat rasa persaudaraan sesama muslim dengan saling mengunjungi dan meminta maaf.Namun sanagat disayangkan pada saat ini,  tradisi ini semakin menyalahi, dulu ada batasan antara lelaki dan perempuan. Sekarang semua bercampur baur. Tidak lagi menunjukkan mensucikan diri yang sebenarnya,

2.3     PERUBAHAN NILAI DARI MANDI BALIMAU
Sekarang tradisi ini semakin menyalahi, dulu ada batasan antara lelaki dan perempuan. Sekarang semua bercampur baur," ujar dia resah.Tak hanya itu, lanjut dia, musik yang dihadirkan pun bukan lah yang bernuansa Islami. Melainkan musik dangdut dengan goyangan yang membangkitkan gairah.Tak ayal, ajang yang semula dijadikan penyucian diri berubah makna menjadi ajang cari jodoh dan mandi bersama pasangan yang bukan muhrim. Balimau Kasai dijadikan hari terakhir sebelum hari semuanya dilarang pada keesokan hari.
Untuk menuju Balimau Kasai ini, orang akan , menempuh satu jam perjalanan. Namun hal ini sebanding dengan keriangan yang ia dapatkan. Ia tak memungkiri, jika Balimau Kasai dijadikan sebagai ajang untuk berkenalan dengan gadis dari daerah lain.

2.4      NILAI FILOSOFIS DARI MANDI BALIMAU
Mandi Balimau kasai tersebut bukanlah termasuk sunnah rosulullah, melainkan hanya sebagai tradisi semata yang memiliki nilai filosofis yang tinggi bagi masyarakat pelalawan dan sekitarnya, Selain momen membersihkan diri secara zahir, mandi Balimau Kasai juga merupakan momentum untuk menjalin silaturrahmi dan acara saling maaf memaafkan dalam rangka menyambut tamu agung yaitu Syahru Ramadan Syahrus Siyam, jadi bukanlah sebuah keyakian yang memiliki dalil naqli  secara qat’i. tapi ini lebih kepada sebuah adat yang bersendikan syara’ (Syariat Islam) syara’ bersandikan Kitabullah yang secara filosifisnya tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Tidak dapat kita pungkiri bahwa kemajuan zaman hari ini secara langsung maupun tidak memberikan dampak negative terhadap kehidupan kita dalam kerangka adat istiadat, banyak terjadi distorsi sejarah, salah interpretasi terhadap nilai-nilai adat yang telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan kita, termasuk mandi Balimau Kasai.Bisa kita lihat dari tahun ketahun kegiatan mandi Balimau Kasai telah dinodai dengan tindakan yang  yang berseberangan dengan syariat islam diantaranya berhura-hura, berboncengan laki-laki dan perempuan yang bukah muhrim, mandi massal yang bercampur antara laki-laki dan perempuan, mabuk-mabukan sampai kepada musik yang menjauhkan masyarakat dari mengingat Allah Swt.
Padahal dulunya, tradisi ini merupakan hal yang tergolong urgen dan sakral. Sebelum memasuki bulan puasa atau sebelum magrib, anak kemenakan dan menantu atau juga yang tua serta murid akan mendatangi orang tua, mertua, mamak (paman), kepala adat, atau guru ngaji  mereka datang dalam rangka meminta maaf menjelang masuk bulan suci.
  
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

            Balimau bakasai itu adalah sebutan bagi upacara penyambutan datangnya bulan suci ramadhan dengan cara bermandi-mandian yang bertujuan untuk menyucikan diri kita dari dosa selama ini kita perbuat sejak lepasnya bulan ramadhan tahun lalu. Tetapi, ajang yang semula dijadikan penyucian diri berubah makna menjadi ajang cari jodoh dan mandi bersama pasangan yang bukan muhrim. Balimau Kasai dijadikan hari terakhir sebelum hari semuanya dilarang pada keesokan hari. kita sebagai generasi muda harus meluruskan adat ini karena sudah tercoreng akan keburukan.

3.2 SARAN

Somaga pembuatan makalah ini bermanfaat pada khususnya untukpemakalah dan pada umumnya untuk pembaca. Kami menyadari bahwa pembuatan makalah ini jauh dari kata sempurna karena banyak memiliki kekurangan. Oleh karena itu kami meminta maaf atas kekurangan kami. Tapi kami akan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi.

0 komentar:

Poskan Komentar

SOBATMAN BAGANSIAPIAPI

Video violin

Loading...

Ubah bahasa